BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Pendidikan yang dapat diperoleh tidak hanya berasal  dari sistem pendi-dikan foramal melainkan bisa diperoleh dari lembaga-lembaga non formal bahkan dari keluarga. Pendidikan formal lebih dikenali keberadaannya karena dapat dipakai untuk mengukur kemajuan sesuatu negara berkaitan dengan kemajuan tingkat pendidikan warga negaranya.

Oleh karena itu pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga formal diharapakan dapat menghasilkan output yang berkualitas. Untuk dapat mencapainya pendidikan harus ditata, proses penataan ini merupakan aktifitas dari manajamen pendidikan. Aktivitas didalam manajemen itu sendiri meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian (controling). Dalam manajemen pendidikan terdapat substansi manajemen pendidikan diantaranya kurikulum, peserta didik, sumber daya manusia, sarana prasarana, keuangan dan hubungan masyarakat. Manajemen pendidikan akan berjalan lancar dan efektif apabila aktivitas didalamnya berjalan dengan baik tanpa ada kekurangan. Oleh karena itu, kami akan membahas aktifitas – aktifitas dalam manajemen pendidikan itu sendiri dan selanjutnya akan juga membahas substansi manajemen pendidikan.

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apa saja yang manajemen administratif dalam ruang lingkup pendidikan
  2. Apa yang dimaksud dengan perencanaan
  3. Apa yang dimaksud dengan pengorganisasian
  4. Apa yang dimaksud dengan penggerakan (motivasi)
  5. Apa yang dimaksud dengan kontrol
    1. C.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui tentang manajemen administratif dalam pendidikan
  2. Untuk mengetahui tentang macam – macam manajemen administratif dalam pendidikan
  3. Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Istilah manajemen mengaju kepada proses pelaksanaan aktivitas yang diselesaikan secara dengan dan melalui pendayagunaan orang lain. Siagan (1978) menyebutkan manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegaiatan-kegiatan orang lain.[1]

Manajemen itu sendiri menurut Hersey dan Blanchard (1977) diberi batasan : “As working with and though individuals and groups to accomplish organizational goals” (Manajemen adalah kegiatan kerja bersama perorangan dan kelompok untuk mencapai tujuan).

Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi. dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kiat oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara – cara dengan mengatur orang lain dalam menjalankan tugas. Dan dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para professional dituntun oleh suatu kode etik.[2] Ada empat macam manajemen administratf dalam prespektif pendidikan, diantaranya yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan (motivasi), dan kontrol.

 

 

 

  1. A.    Perencanaan (Planning)

Fungsi awal dari sebuah manajemen adalah perencanaan. Perencanaan merupakan salah satu hal terpenting yang perlu dibuat untuk setiap usaha dalam rangka mencapai suatu tujuan. Karena seringkali pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan tanpa adanya perencanaan.

  1. Pengertian Perencanaan Pendidikan

Anderson dan Bowman (1964) (dalam marno, Triyo Supriyatno 2008), mengatakan bahwa perencanaan adalah proses mempersiapkan seperangkat keputusan bagi perbuatan di masa datang. Definisi ini menginsyaratkan bahwa pembuat keputusan merupakan bagian dari perencanaan, namun proses perencanaan dapat juga terpikir setelah tujuan dan keputusan diambil.[3] Sedangkan menurut Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) mengatakan bahwa planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective. Hampir sama dengan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.”

Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Disebut sistematis karena perencanaan yang dilaksanakan dengan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip tersebut mencakup proses pengambilan keputusan, pengunaan pengetahuan dan tehnik secara ilmiah, serta kegiatan atau tindakan yang terorganisasi. Waterson (1965) mengemukakan bahwa pada hakekatnya perencanaan merupakan usaha sadar, terorganisasi dan terus menerus dilakukan untuk memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif tindakan guna untuk mencapai tujuan.

Dari beberapa uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan, dan siapa yang mengerjakannya. Dan dalam perspektif pendidikan, perencanaan adalah keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan selama waktu tertentu (sesuai dengan jangka waktu perencanaan) agar penyelenggaraan sistem pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien serta menghasilkan lulusan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.

  1. Model – Model Perencanaan Pendidikan

Ada beberapa model perencanaan pendidikan yang patut diketahui, antara lain :

1)      Model perencanaan komprehensif, digunakan untuk menganalisis perubahan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan.

2)      Model target setting, diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu.

3)      Model costing (pembiayaan) dan kefeektifan biaya, digunakan untuk mengalisis proyek – proyek dalam kriteria efisien dan efektifitas ekonomis.

4)      Model PPBS (planning, programming, budgeting sistem), bermakna bahwa perencanaan, penyusunan program, dan penganggaran dipandang sebagai suatu sistem yang tidak terpisahkan satu sama lainya.

  1. Metode – Metode Perencanaan

Beberapa metode yang digunakan secara umum dalam perencanaan, tetapi dapat diterapakan dibidang pendidikan ditemukan oleh Augus W.Smith (1982), antara lain :[4]

1)      Metode mean-ways and analysis (analisis sumber alat-cara-tujuan)

2)      Metode input-output analysis (analisis masukan dan keluaran)

3)      Metode econometric analysis (analisis ekonometrik)

4)      Metode cause-effect diagram (diagram sebab-akibat)

5)      Metode Delphi

6)      Metode heuristic

7)      Metode life-cycle analysis (analisis siklus kehidupan)

8)      Metode value added analysis (analisis nilai tambah)

  1. Teknik – Teknik Perencanaan

Pada bagian ini menguraikan beberapa teknik yang dapat membantu perencanaan dalam mengambil keputusan. Teknik – teknik tersebut antara lain :

1)      Diagram balok (bar chart)

Diagram ini memebrikan gambaran tentang kegiatan terperinci dari suatu proyek, waktu memulai setiap kegiatan dan lamanya kegiatan tersebut.

2)      Diagram milstone

Diagram ini menggambarkan unsur – unsur fungsional suatu proyek dengan keterkaitannya secara fungsional. Struktur ini dibuat berdasarkan pemecahan struktur proyek yang disusun secara hierarkis.

3)      PERT dan CPM (network planning)

Sebagai suatu teknik, PERT dan CPM menggunakan prinsip pembentukan jaringan kerja. Menurut Soetom Kayatno (1997) network planning merupakan sebuah alat manajemen yang memungkinkan dapat lebih luas dan lengkapnya perencanaan dan pengawasan suatu proyek.

  1. Manfaat Perencanaan

T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan:

1)      Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan;

2)      Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama;

3)      Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran;

4)      Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat;

5)      Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi;

6)      Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi

7)      Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami;

8)      Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan

9)      Menghemat waktu, usaha dan dana.

  1. Langkah – Langkah dalam Penyusunan Perencanaan

T. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah – langkah dalam penyusunan perencanaan strategik, sebagai berikut:

1)      Penentuan misi dan tujuan, yang mencakup pernyataan umum tentang misi, falsafah dan tujuan. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Nilai-nilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika, atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan.

2)      Pengembangan profil perusahaan, yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang, serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya -sumber daya perusahaan yang tersedia. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang.

3)      Analisa lingkungan eksternal, dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. Disamping itu, perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus, seperti para penyedia, pasar organisasi, para pesaing, pasar tenaga kerja dan lembaga-lembaga keuangan, di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan.

Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis, namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan, khususnya pada tingkat persekolahan, karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri.

  1. B.     Perorganisasian (Organizing)

Pelaksanaan program – program kegiatan yang telah direncanakan harus dikordinasikan secara baik. Jadwal pelaksanaan program disusun secara sequensial. Umpanya program penyusunan dijadwal setelah guru-guru memahami kandungan konsep kurikulum dan menguasi yang diperlukan dalam proses menyusun analisis materi pelajaran. Tujuan setiap program kegiatan diintegrasikan, artinya tujuan setiap program kegiatan dipadukan sehingga saling menunjang kearah terwujudnya pelak-sanaan kurikulum. Disamping itu progam-program kegiatan yang telah direncanakan disingkronisasikan. Kordinasi diperlukan untuk menghindari adanya konflik antar program, baik dari segi pelaksanaan maupun tujuan. Langkah selanjutnya yaitu peng-organisasian program – program kegiatan.

 

 

  1. Pengertian Pengorganisasian

Istilah organisasi mempunyai dua pengertian utama. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan badan – badan peme-rintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana peker-jaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.[5]

George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memper-oleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”. Sedangkan Lousie E. Boone dan David L. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian “… as the act of planning and implementing organization structure. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and acom-mplishment organizational obtective”.

Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana – rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk diper-hatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Dan pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas – tugas yang lebih kecil, membe-bankan tugas – tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efek-tivitas pencapaian tujuan organisasi.

  1. Proses Pengorganisasian

Ernest Dale (Stoner, 1986) memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang jamak yaitu :

1)      Tahap pertama – pemerincian pekerjaan

Yang harus dilakukan dalan merinci pekerjaan adalah menentukan tugas – tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.

2)      Tahap kedua – pembagian kerja

Membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan – kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau perkelompok.

3)      Tahap ketiga – penyatuan pekerjaan

Menggabungkan pekerjaan tiap anggota dengan cara yang rasional dan efisien.

4)      Tahap keempat – koordinasi pekerjaan

Menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis.

5)      Tahap kelima – monitoring dan reorganisasi

Melakukan monitoring dan mengambil langkah – langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas.

  1. C.    Penggerakan (Actuating)

Fungsi manajemen yang ke tiga adalah fungsi penggerakan, artinya kepala sekolah harus dapat menggerakkan guru agar dapat menerapkan konsep kurikulum yang berlaku dalam proses pembelajaran. Kemauan guru tumbuh berkembang apabila mereka termotivasi oleh rasa puas terhadap hasil kerja mereka: yakni hasil penerapan kerikulum dalam proses pembelajaran. Untuk itu kepala sekolah harus mampu mengembangkan tumbuhnya iklim organisasi sekolah yang kondusif bagi terlak-sananya kurikulum di sekolah. Penggerakan pada dasarnya merupakan fungsi mana-jemen yang komplek dan ruang lingkupnya cukup luas serta berhubungan erat dengan sumber daya manusia.

  1. Pengertian penggerakan

Penggerakan merupakan salah satu fungsi terpenting dalam manajemen. Penggerakan adalah hubungan erat antara aspek-aspek individual yang ditimbulkan dari adanya pengaturan terhadap bawahan untuk dapat dimengerti dan pembagian kerja yang efektif dan efesien untuk mencapai tujuan pendidikan yang nyata. Sedangkan Terry (1986) mendefinisikan actuating sebagai usaha menggerakan anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan dan sasaran anggota perusahaan, karena para anggota ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.[6]

Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap orang dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

Pada tahap pelaksanaan atau actuating, tugas utama kepala sekolah adalah melakukan supervisi, dengan tujuan untuk membantu guru menemukan dan mengatasi kesulitan yang dihadapi. Dengan itu guru akan merasa didampingi pimpinan, sehingga akan membangkitkan semangat kerja (Dedikbud, 1994). Tugas kepala sekolah dalam mangarahkan guru kelas. Guru adalah sumber daya insani yang sangat penting perannya dalam mendidik dan mengajar. Berhasilnya kegiatan belajar mengajar bergantung pada kemampuan guru dalam menyusun atau merancang program belajar mengajar. Oleh karena itu, kepala sekolah mempunyai tugas untuk mengarahkan guru-guru dalam menyusun program belajar mengajar, yaitu menyusun program belajar mengajar yaitu menyusu program pengajaran tahunan dan semester.

  1. D.    Pengawasan (Controlling)

Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Pengawasan juga merupakan salah satu upaya manajerial untuk mencegah terjadinya penyimpangan pelaksanaan program dari rencananya. Meskipun setiap program kegiatan telah direncanakan secara rasional dan sistematis serta di tunjang oleh data-data yang akurat dan objektif, pelaksanaan program tersebut tidak selalu berjalan dengan lancar. Banyak hambatan atau masalah yang relatif dapat menggagalkan tercapainya tujuan atau target yang telah ditetapkan. Hambatan datang dari berbagai faktor baik manusia maupun non-manusia.

  1. Pengertian pengawasan

Pengawasan adalah proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan (Sondang P.Siagian). Pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan, apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak (Suyamto). Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : “… the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”.

Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa : “Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”

Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

  1. Proses pengawasan

Proses pengawasan terdiri atas lima tahapan menurut T.Hani Handoko :

1)      Penetapan standar pelaksanaan;

2)      Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan;

3)      Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata;

4)      Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan

5)      Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.

  1. Tujuan Pengawasan

1)      Menjamin ketepatan pelaksanaan sesuai rencana, kebijaksanaan dan perintah (aturan yang berlaku );

2)      Menertibkan koordinasi kegiatan. Kalau pelaksana pengawasan banyak, jangan ada objek pengawasan dilakukan berulang-ulang, sebaliknya ada objek yang tak pernah tersentuh pengawasan;

3)      Mencegah pemborosan dan penyimpangan, Karena pengawasan mempunyai prinsip untuk melindungi masyarakat, maka pemborosan dana yang ditanggung masyarakat harus dicegah oleh penyimpangan yang dilakukan pihak kedua. Menjamin terwujudnya kepuasan masyarakat atas barang dan jasa yang dihasilkan. Tujuan akhir suatu pekerjaan yang professional adalah terciptanya kepuasan masyarakat;

4)      Membina kepercayaan masyarakat pada kepemimpinan organisasi. Jika barang atau jasa yang dihasilkan memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat, maka masyarakat tidak saja percaya pada pemberi jasa, tapi juga pada institusi yang memberikan perlindungan pada masyarakat dan akhirnya percaya pula pada kepemimpinan organisasi;

5)      Mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak;

6)      Memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengusahakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan baru;

7)      Mengetahui penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam rencana awal (planning) terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang direncanakan;

8)      Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (fase/tingkat pelaksanaan);

9)      Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan;

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Dalam perspektif persekolahan, agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik, boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi, yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya.

Jadi, didalam manajemen itu sendiri terdapat aktivitas uatama meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian (controling).

  1. B.     saran

dalam makalah ini, kami menyarankan agar setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis, pengorganisasian yang efektif dan efisien, pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya, dan pengawasan secara berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Fattah, Nanang. 2009. Landasan Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya

Marno, Triyo Supriyatno. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Refika Aditama

http://www.aadesanjaya.blogspot.com diakses rabu, 4 Juli 2012

http://pakjool.blogspot.com/2009/01/blog-post.html diakses rabu, 4 Juli 2012

http://attawijasa20.wordpress.com/2011/05/06/pengawasan-dan-kontrol-dalam-manajemen-pendidikan/ diakses rabu, 4 Juli 2012

 


[1] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2008, hlm. 1

[2] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 1

[3] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2009, hlm. 13

[4] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 52

[5] Dr. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 71

[6] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2009, hlm. 20-21

About dwiseptina

hobby nonton, baca, wisata kuliner motto : Slowly but Sure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s